Laman

Selasa, 14 Februari 2012

Sebuah Pengalaman (Short Story)


              Sebuah Pengalaman 

Semula ku tak yakin
Kau lakukan ini pada ku
Mesti di hati merasa
Kau berubah saat kau mengenal dia

Bila cinta tak lagi untuk ku
Bila hati tak lagi pada ku
Mengapa harus dia yang merebut
dirimu

Bila aku tak baik untukmu
Dan bila dia bahagia dirimu
Aku kan pergi meski hati tak akan rela

Terkadang ku menyesal
Mengapa ku kunenalkan dia
Padamuuu..


lunan sebuah lagu yang diawali dengan indah oleh seorang laki-laki yang tampan dan hitam manis, bernama Mario Stevano Aditya, biasa di sapa Rio. Suara merdu dan lembutnya mampu meluluhkan setiap mata dan jiwa yang mendengarkan, dan melihat kesungguhan dari wajahnya dalam menyanyikan setiap syair dengan sangat indah. Tidak dapat dipungkiri kalau dia membawakannya dengan sempurna. Lagu ini adalah lagu yang ia buat dari pengalamannya pribadinya. Pengalaman yang membuat dia untuk pertama kalianya merasakan ‘bagaimana rasanya DIHIANATI’. Bahkan, oleh sahabat sendiri.

 ^Flash back ^ 



        “vi, temen aku yang dari Italy udah nyampe di Indo tadi siang, dan dia mau kesini” ucap Rio setelah dia membaca sebuah pesan singkat yang di kirimkan oleh sahabatnya. Saat itu Rio bersama Sivia (Sivia Azizah ‘kekasihnya’) sedang dinner di sebuah restoran elit di Jakarta. Posisi duduk Sivia dan Rio pun saling berhadapan.

        “sekarang?” tanya Sivia memastikan, Rio mengangguk mantap seraya berkata,

        “iya sekarang, dia udah OTW mau kesini” jelas Rio. Sivia hanya menjawab dengan membulatkan mulutnya berbentuk ’O’. Tidak lama mereka berkata seperti itu, seorang cowo berkuit putih dan berwajah oriental menghampiri mereka.

        “sorry lama bro” sesalnya. Rio pun berdiri dan mengajaknya bergabung dengan dia dan Sivia, Cowo berwajah oriental itu pun lalu duduk di sebelah Rio. Rio yang menyadari kalau Sivia belum sadar bahwa teman baiknya itu sudah datang pun, menendang pelan kaki Sivia, Sivia yang saat itu dalam posisi menunduk, menghentikan aktivitas makannya dan mengangkat wajahnya.

        “vi, ini temen aku yang mau aku kenalin ke kamu” ucap Rio sambil menunjuk cowo berwajah oriental yang berada di sampingnya. Cowo yang berwajah oriental itu pun tersenyum , lalu mengulurkan tangannya,

        “gue Alvin Jonathan, biasa di panggil Alvin” Sivia membalas senyuman Alvin dan juga menerima uluran tangan Alvin seraya berkata,
   
        “Sivia Azizah, biasa di panggil Via atau Sivia” Rio yang melihat kekasih dan sahabat baiknya ini sudah berkenalan pun ikut tersenyum.

^_^

        Setelah perkenalan singkat itu, Rio dan Sivia lebih sering memutuskan untuk jalan bertiga dengan Alvin. Dan hubungan Alvin dan Sivia pun semakin dekat. Terkadang Rio sedikit merasakan rasa kehawatiran-nya karena Sivia terlihat begitu bersemangat bila sudah ada Alvin dan kadang seperti Alvin lah kekasihnya bukan dirinya, tapi dia membuang perasaan itu jauh-jauh dan menganggapnya hanya sebatas angin lewat. ‘ mana mungkin sahabatnya tega merebut kekasihnya’, itulah cara Rio membuang rasa kehawatiran-nya yang terkadang menghantui pikirannya.

^_^

        Setelah melihat film yang di tunggu-tunggunya sudah ada di bioskop. Rio pun langsung mengajak Sivia dan Alvin untuk menonton bersamanya. Dia pun langsung mengambil handphonenya, lalu menelpon sahabat dan kekasihnya itu,

^RIO-ALVIN^

Alvin : kenapa yo?

Rio : I Am Number Four udah ada di bioskop vin, nonton yuuuu..

Alvin : boleh-boleh, Sivia ikut kan?

Rio : iyalah dia kan cewe gue..

Alvin : hehehe, yaudah tar ketemu di bioskop ya.. lu mau ngejemput Sivia dulu kan?

Rio : oke deh... iya mau jemput via dulu..

Alvin : sip, gue tutup telponnya ya..

Rio : iyalah...

-Sambungan terputus-.

        Setelah menelpon sahabatnya itu, Rio pun melanjutkannya dengan menelpon Sivia.

^RIO-SIVIA^

Rio : halo sayang..

Sivia : iya kenapa yo?

Rio : kita nonton yu ? ada I Am Number Four di bioskop..

Sivia : iya oke.. aku juga udah tau ko, tadi Alvin sms..

Rio : yaudah kalo kaya gitu.. aku jemput jam 8 ya..

Sivia : oke.. udah dulu ya yo, aku mau siap-siap...

Rio : iya dadah sayaang..

-Sambungan terputus-.

        Entah kenapa perasaan hawatir itu muncul lagi setelah Sivia berkata :

        ‘iya oke.. aku juga udah tau ko, tadi Alvin sms.. ‘

        “udah lah yo, paling si Alvin ngira kalo gue ga ngasih tau via jadi dia sms, belum tentulah kalo mereka smsan” guman Rio pada dirinya sendiri. Setelah berkata seperti itu Rio pun melangkah kan kakinya menuju kamar mandi.

^_^

        Rio, Sivia, dan Alvin pun memasuki ruangan bioskop. Mereka memesan tempat duduk yang sejajar, posisinya –ALVIN-SIVIA-RIO-. Lampu ruangan bioskop pun di matikan dan film pun di mulai.

        “waw film kesukaan kamu itu vin” ucap Sivia tanpa sadar, dia lalu menepuk jidatnya seraya berkata,

        “eh salah, ini mah kesukaannya Rio hehe” ucap Sivia sambil tertawa kecil. Rio agak kecewa mendengar ucapan Sivia, bahkan film kesukannya saja dia salah mengucapan dengan mengatakan bahwa itu kesukaan Alvin.

        “kenapa gue terus curiga sama Alvin dan Sivia kalo mereka punya hubungan yang lebih dari teman.. kenapa?” batin Rio. Di kepalanya benar-benar penuh dengan tanda tanya besar. Meskipun dia mencoba membuang semua perasaan itu, tapi tetap saja perasaan itu sering datang menghampirinya.

        Saat di pertengahan film, Rio melirik kearah Sivia dan pandangannya terhenti ketika dia melihat tangan Sivia sedang menggenggam erat tangan Alvin.

        “Tuhan lagi-lagi Rio melihat hal yang semakin memperbesar rasa kehawatiran Rio, bahkan dengan mata kepala Rio sendiri, Rio liat kalo Via lebih memilih menggenggam tangan Alvin ketibang Rio yang notabennya adalah kekasihnya! Kasih Rio jawabannya Tuhan” batin Rio. Karena tidak kuasa melihat adegan itu, Rio memutuskan untuk pergi dari bioskop,

        “Sivia” panggil Rio. Merasa di panggil oleh Rio, Sivia pun buru-buru melepaskan tangannya lalu menoleh ke arah Rio,

        “ke..n..a..p..a.. yo?” tanya Sivia gugup. Sivia takut kalo halnya Rio melihat tangannya menggenggam erat tangan Alvin, bukan tangan Rio yang jelas-jelas adalah kekasihnya.

        “gue di telpon nyokap suruh balik, gue balik dulu ya” pamit Rio lalu bergegas pergi. Saat Rio sudah berada di depan pintu bioskop, dia merasa ada yang ketinggalan, dan benar saja handphonenya tertinggal,

        “ah gara-gara buru-buru ini” gerutu Rio. Rio pun membalikan badannya lalu berjalan menju kursi yang tadi di tempatinya. Rio pun hampir sampai di kursinya, tapi langkahnya terhenti ketika dia melihat,

        ALVIN DAN SIVIA, MEREKA CIUMAN!!!!!!!

        "terimakasih Tuhan, baru saja kau tunjukan aku tentang semuanya" batin Rio. Rio yang sudah muak dengan adegan itu pun hampir saja menonjok Alvin, namun dengan sekuat tenaganya dia menahan emosinya. Dia juga tidak ingin mengganggu pengunjung bioskop lainnya.

        Lama Alvin dan Sivia tidak menyadari kehadiran Rio. Setelah sekitar 15 menit berlalu, barulah Alvin menyadari kalo sudah ada Rio. Alvin yang terkejut akan ke hadiran Rio pun langsung menghentikan ciumannya,

        "yo ini bisa gue jelasin" ucap Alvin yang sangat merasa bersalah, Keringat dingin pun sudah keluar dari tubuhnya. Dan hal ini juga terjadi pada Sivia setelah dia mengetahui keberadaan Rio, dia langsung menundukan kepalanya karena rasa bersalahnya.  

        Rio tersenyum kecil, "santai kali.. gue ga ada niat buat ganggu kalian gue cuma mau ngambil handphone gue yang ketinggalan" ucap Rio seraya mengambil handphonenya, setelah itu dia membalikan badannya hendak keluar dari ruang bioskop,

        "Rio" Rio pun menghentikan langkahnya setelah mendengar panggilan dari Sivia,

        "kenapa vi?" tanya Rio tanpa merubah posisinya yang sedang membelakangi Sivia dan Alvin,

        "maafin aku yo" lirihnya dengan suara bergetar..

        "kamu ga salah! Cuma aku yang bego" Rio pun melanjutkan langkahnya..

        Sejak saat itu Rio memutuskan untuk pindah tanpa memberitahu Alvin ataupun Sivia terlebih dahulu. Dan sejak saat itu juga Rio tidak pernah bertemu atau berhubungan dengan Alvin dan Sivia. 


^ Flash back off  ^ 

Bila cinta tak lagi untuk ku
Bila hati tak lagi pada ku
Mengapa harus dia yang merebut
dirimu

Bila aku tak baik untukmu
Dan bila dia bahagia dirimu
Aku kan pergi meski hati tak akan rela

Terkadang ku menyesal
Mengapa ku kunenalkan dia
Padamuuu

        Dia mengakhiri nyanyiannya dengan sempurna. Suara ricuh langsung terdengar ketika setiap orang memberikan pujian dan tepuk tangan untuknya. Rio tersenyum seraya berkata, “terimakasih”, barulah dia turun dari atas panggung yang megah. Saat sudah selesai menuruni panggung, Rio melirik kesana kemari mencari seseorang yang selalu menemaninya.

        "nyari aku ya?" Rio pun tersenyum lalu membalikan badannya. Di dapatinya seorang perempuan cantik yang kini mengisi hatinya, dengan cepat Rio menghampirinya lalu mencium lembut bibirnya. Setelah beberapa detik kemudian, Rio pun melepaskan ciumannya,

        "oh ya tadi bagus banget.. Aku mau tanya boleh?"

         "mau tanya apa?"

        "tadi buat Sivia ya" tebak Shilla sambil menundukan kepalanya, Rio pun mengangkat dagu Shilla sambil menatapnya,

        "jangan hawatir sayang, Sivia itu masa lalu aku, dan kamu itu sekarang dan seterusnya.. Sivia udah punya jalannya sendiri, dan lagu tadi aku cuma pengen membawakannya aja. Biarkan lagu tadi kita anggap kenangan kalo aku pernah mengalami sebuah kejadian yang seperti itu dan itu hanya sebuah kenangan!.. Dan kehidupan aku sekarang, aku hanya ingin melukis kenangan hanya sama kamu.. Aku sayang kamu Shill, cuma kamu.. Bahkan berkat kamu kenangan pahit itu sudah sangat ingin aku buang.." Shilla pun langsung memeluk Rio,

        "aku sayang banget sama kamu, yoo..." Rio pun membalas pelukan dari Shilla seraya berkata,

        “aku juga sayang banget banget sama kamu, shil..” keduanya tersenyum. Saat keduanya sedang berpelukan Shilla membuka suaranya untuk mengatakan apa yang dia pikir penting untuk diberitahu pada Rio. 

        "ada yang mau ketemu sama kamu, yo.." ucapan Shilla barusan membuat Rio merenggangkan pelukannya dan membuat alisnya terangkat, 

        "siapa, shill?.." tanya Rio. Shilla mulai mengatur nafasnya lalu berjalan menuju balik pintu dimana orang yang mencari Rio tegah berdiri. Shilla mempersilahkan kedua orang yang mencari Rio itu untuk masuk. Saat kedua orang itu sudah masuk Rio sedikit terkejut dengan apa yang dilihatnya, 

        "kalian, mau apa kesini?.." tanya Rio. Kedua orang itu mendekat kearah Rio. 

        "kita kesini mau minta maaf , yo.." jawab salah seorang laki-laki yang berwajah oriental, tulus. 

        "kita bener-bener minta maaf , yo.." sambung seorang perempuan yang juga berwajah oriental dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Rio tersenyum, 

        "gue udah maafin kalian. Kalian sahabat gue.." ucapan Rio barusan membuat laki-laki berwajah oriental itu memeluknya, 

        "thanks, yo. Kata maaf lo berguna banget buat gue dan Sivia." ucap laki-laki berwajah oriental. Kedua orang tadi adalah Alvin dan Sivia. Rio menepuk pelan punggung Alvin, 

        "urwel, vin." Alvin melepaskan pelukannya lalu melirik kearah Shilla, 

        "pacar lo, yo?." tanya Alvin sambil menunjuk kearah Shilla. Sebelum menjawab pertanyaan Alvin, Rio menghampiri Shilla lalu menggandeng tangan Shilla, 

        "tunangan gue dong. Cinta sejati gue" jawab Rio dengan senyum tulus yang tertera dibibirnya. 

        "selamat ya bro.." 

        "thanks, vin. Oh, ya lo sama Sivia gimana?" tanya Rio. Alvin melirik Sivia lalu keduanya menjawab secara bersamaan,

        "kita udah nikah.." Rio dan Shilla tersenyum, 

        "wah kalian ternyata udah ngeduluin kita ya..haha" sahut Shilla dengan tawa diakhir ucapannya. 

        "bentar lagi kita nyusul ko.." celetuk Rio sambil melirik kearah Shilla. Shilla tersenyum, 

        "amin, kita minta do'anya ya.." ucap Shilla. Alvin dan Sivia lantas mengangkat kedua jempol mereka seraya berkata, 

        "pasti.." seru keduanya. Keempat sekawan itupun larut dalam berbagai perbincangan menarik tentang hari-hari mereka sebelum akhirnya dipertemukan kembali. 


“Hal ini memang kerap terjadi dalam hidup kita,
Bukan karena Tuhan membenci kita, tapi karena Tuhan tau mana yang terbaik untuk kita.
Meski di awal kita di pertemukan dengan orang yang salah,
Tapi pada saatnya Tuhan pasti akan mengirimkan yang terbaik untuk kita :*..“

"Berbuat suatu kesalahan memang kerap terjadi dalam kehidupan kita.
Tapi yang harus kita ketahui , karena adanya kesalahan itu juga kita dapat belajar untuk lebih baik lagi kedepannya sehingga kita bisa memperbaiki kesalahan itu :D" 

END :*

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar